Kamis, 08 Februari 2018

Model Pembelajaran Sains Abad 21

A. Model Pembelajaran Sains abad Ke-21

    Model Pembelajaran Abad Ke-21 ini memang berbeda dengan abad-abad sebelumnya, pada abad 21 ini teknologi berkembang hubungan antar bangsa semakin Kuat, terjadi perubahan cara hidup serta interaksi warga Negara semakin dekat dengan warga Negara lain.Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern tersebut, masyarakat suatu negara dituntut mampu bersaing dan melakukan penyesuaian untuk menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Jika sumber daya manusia suatu negara berkualitas maka dapat dikatakan negara tersebut maju. Maju mundurnya suatu negara tersebut erat kaitannya dengan aspek pendidikan. Jadi untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, diperlukan pendidikan yang berkualitas pula.
   Pada Kurikulum 2013 diharapkan dapat diimplementasikan pembelajaran abad 21, hal ini untuk menyikapi tuntutan zaman yang semakin kompetitif adapun pembelajaran abad 21 mencerminkan empat hal 
1. Critical Thingking and Problem Solving
2. Creativity and Inovation
3. Comunication 
4. Collaboration 
    Berikut beberapa penjelasan mengenai empat hal yang telah diutaran diatas :
1. Critical Thinking and Problem Solving
    Pada karakter ini, peserta didik berusaha untuk memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit, memahami interkoneksi antar sistem.peserta didik juga menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan mandiri, peserta didik juga me-miliki kemampuan untuk menyusun dan mengungkapkan, menganalisa dan menyelesaikan masalah.
2. Creativity and Inovation 
    Pada Karakter ini, peserta didik memiliki kemampuan untuk menggembangkan melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda.
3. Comunication 
    Pada Karakter ini peserta didik di tuntut untuk memahami, mengolah dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan dan multimedia, peserta didik diberikan kesempatan mengunakan kemampuannya untuk memahami, mengelola dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara Lisan, Tulisan dan Multimedia.
4. Collaboration 
    Pada Karakter ini, peserta didik menunjukan kemampuannya dalam kerjasama berkelompok dan kepemimpinan beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggung jawab, bekerja secara produktif dengan yang lain, menempatkan empati pada tempatnya, menghormati perspektif yang berbeda. peserta didik juga menjalankan tanggung jawab pribadi dan fleksibilitas secara pribadi, pada tempat kerja dan hubungan mayarakat menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk diri sendiri dan orang lain, memaklumi kerancuan. 


B. Konsep Belajar dan Pembelajaran Abad 21 

   untuk mengembangkan pembelajaran abad 21, guru Harus memulai satu langkah perubahan yaitu merubah pola pembelajaran tradisional yang berpusat pada gurumenjadi pola pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pola Pembelajaran yang Tradisional Bisa dipahami sebagai Pola pembelajaran dimana guru banyak memberikan ceramah sedangkan siswa lebih banyak mendengar, mencatat dan menghafal.
     Untuk mampu mengembangkan pembelajaran abad 21 ini ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan yaitu antara lain :
1. Tugas Utama Guru Sebagai Perencana Pembelajaran sebagai Fasilitator dan pengelola kelas maka tugas guru yang penting adalah dalam Pembuatan RPP. RPP haruslah baik dan detail dan mampu menjelaskan semua proses yang akan terjadi dalam kelas termasuk proses penilaian dan target yang ingin dicapai. dalam menyusun RPP, guru harus mampu mengkombinasikan antara target yang diminta dalam Kurikulum Nasional, pengembangan kecakapan abad 21 atau karakter nasional serta pemanfaatan teknologi dalam kelas.
2. Masukan Unsur Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking) teknologi dalam hal ini khususnya internet akan sangat memudahkan siswa untuk memperoleh informasi dan jawaban dari persoalan yang disampaikan oleh guru untuk permasalahan yang bersifat pengetahuan dan pemahaman bisa dicari solusinya dengan sangat mudah dan ada kecendrungan bahwa siswa hanya jadi pengumpul informasi.
3. Penerapan pola pendekatan dan model pembelajaran yang bervariasi Beberapa pendekatan pembelajaran seperti pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning), pembelajaran berbasis keingintahuan (Inquiry Based Learning) serta model pembelajaran silang (jigsaw) maupun model kelas terbalik (Flipped Classroom) dapat diterapkan oleh guru untuk memperkaya pengalaman belajar siswa (Learning Experience). 
4.  Integrasi Teknologi Sekolah dimana siswa dan guru mempunyai akses teknologi yang baik harus mampu memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran, siswa harus terbiasa bekerja dengan teknologi seperti layaknya orang yang bekerja. Seringkali guru mengeluhkan mengenai fasilitas teknologi yang belum mereka miliki, satu hal saja bahwa pengembangan pembelajaran abad 21 bisa dilakukan tanpa unsur teknologi, yang terpenting adalah guru yang baik yang bisa mengembangkan proses pembelajaran yang aktif dan kolaboratif, namun tentu saja guru harus berusaha untuk menguasai teknologinya terlebih dahulu. Hal yang paling mendasar yang harus diingat bahwasannya teknologi tidak akan menjadi alat bantu yang baik dan kuat apabila pola pembelajarannya masih tradisional.

C. Prinsip Pokok Pembelajaran Abad 21

   Dalam buku paradigma pendidikan nasional abad XXI yang diterbitkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) atau membaca isi Pemendikbud No. 65 tahun 2013 tentang Standar Proses, BSNP merumuskan 16 prinsip pembelajaran yang harus dipenuhi dalam proses pendidikan abad ke-21. Sedangkan Pemendikbud No. 65 tahun 2013 mengemukakan 14 prinsip pembelajaran, terkait dengan implementasi Kurikulum 2013.
  Sementara itu, Jennifer Nichols menyederhanakannya ke dalam 4 prinsip pokok pembelajaran abad ke 21yang dijelaskan dan dikembangkan seperti berikut ini: 
1. Instruction should be student-centered Pengembangan pembelajaran seyogyanya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat. 
2. Education should be collaborative Siswa harus dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka. 
3. Learning should have context Pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata. 
4. Schools should be integrated with society Dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat, seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya. 

D. Model Pembelajaran Dan Peran Pendidik Abad 21

a. Model Pembelajaran Ada beberapa model pembelajaran yang layak untuk diaplikasikan dalam pembelajaran abad 21. Namun yang paling populer dan banyak di implementasikan adalan model Pembelajaran PjBL (Project Based Learning dan Inquiry Based Learning )

  1. PjBL atau Pembelajaran Berbasis Proyek 
         merupakan model belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. Melalui PjBL, proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum. Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. PjBLmerupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda, maka Pembelajaran Berbasis Proyek memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan investigasi  mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik.
  Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dikatakan sebagai operasionalisasi konsep “Pendidikan Berbasis Produksi” yang dikembangkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK sebagai institusi yang berfungsi untuk menyiapkan lulusan untuk bekerja di dunia usaha dan industri harus dapat membekali peserta didiknya dengan “kompetensi terstandar” yang dibutuhkan untuk bekerja pada bidang masing-masing. Dengan pembelajaran “berbasis produksi” peserta didik di SMK diperkenalkan dengan suasana dan makna kerja yang sesungguhnya di dunia kerja.. 

2) Inquiry Based Learning 
   Kata “Inquiry” berasal dari Bahasa Inggris yang berarti mengadakan penyelidikan, menanyakan keterangan, melakukan pemeriksaan (Echols dan Hassan Shadily, 2003: 323). Sedangkan menurut Gulo (2005:84) inkuiri berarti pertanyaan atau pemeriksaan, penyelidikan. Di dalam inquiry terdapat keterlibatkan siswa untuk menuju ke pemahaman. Lebih jauh disebutkan bahwa keterlibatan dalam proses belajar akan berdampak pada perolehan keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk pemecahan masalah, yakni menemukan jawaban dari pertanyaan yang selanjutnya digunakan untuk membangun pengetahuan baru bagi siswa. 
     Inquiry didefiniskan sebagai usaha menemukan kebenaran, informasi, atau pengetahuan dengan bertanya. Seseorang melakukan proses inquiry dimulai ketika lahir sampai dengan ketika meninggal dunia. Proses inquiry dimulai dengan mengumpulkan informasi dan data melalui pancaindera yakni penglihatan, pendengaran, sentuhan, pencecapan, dan penciuman. 
   Pendekatan IBL adalah suatu pendekatan yang digunakan dan mengacu pada suatu cara untuk mempertanyakan, mencari pengetahuan (informasi), atau mempelajari suatu gejala. Pembelajaran dengan pendekatan IBL selalu mengusahakan agar siswa selalu aktif secara mental maupun fisik. Materi yang disajikan guru bukan begitu saja diberitahukan dan diterima oleh siswa, tetapi siswa diusahakan sedemikian rupa sehingga mereka memperoleh berbagai pengalaman dalam rangka “menemukan sendiri” konsep-konsep yang direncanakan oleh guru. Inquiry based learning adalah sebuah teknik mengajar di mana guru melibatkan siswa di dalam proses belajar melalui penggunaan cara-cara bertanya, aktivitas problem solving, dan berpikir kritis. Hal ini akan memerlukan banyak waktu dalam persiapannya. Inquiry based learning biasanya berupa kerja kolaboratif. Kelas dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok diberi sebuah pertanyaan atau permasalahan yang akan mengarahkan semua anggota kelompok bekerja bersama mengembangkan proyek berdasarkan pertanyaan tersebut untuk menemukan jawabannya. Karena inquiry-based learning berbasis pertanyaan, maka guru harus menyiapkan pertanyaan yang bersifat terbuka sehingga siswa dapat mengembangkan pikirannya. Siswa harus diberi kesempatan untuk mencoba menemukan sendiri konsep yang diajarkan. Lebih dari itu, jika siswa juga diberi kesempatan untuk mengukur kemajuan belajarnya sendiri, maka hal ini akan membantu mereka belajar. 

  b.Peran Pendidik Pendidik berperan sangat penting, karena sebaik apa pun kurikulum dan sistem pendidikan yang ada, tanpa didukung mutu pendidik yang memenuhi syarat maka semuanya akan sia-sia. Sebaliknya, dengan pendidik yang bermutu maka kurikulum dan sistem yang tidak baik akan tertopang. Keberadaan pendidik bahkan tak tergantikan oleh siapapun atau apapun sekalipun dengan teknologi canggih. Alat dan media pendidikan, sarana prasarana, multimedia dan teknologi hanyalah media atau alat yang hanya digunakan sebagai rekan dalam proses pembelajaran
   Oleh karena itu, pendidik dan tenaga kependidikan perlu memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan, kompetensi yang terstandar serta mampu mendukung dan menyelenggarakan pendidikan secara profesional. Khususnya guru sangat menetukan kualitas output dan outcome yang dihasilkan oleh sekolah karena dialah yang merencanakan pembelajaran, menjalankan rencana pembelajaran yang telah dibuat sekaligus menilai pembelajaran yang telah dilakukan (Baker&Popham, 2005:28). 
    Selain itu, menurut Nasution (2005:77) bahwa pendidik merupakan orang yang paling bertanggung jawab untuk menyediakan lingkungan yang paling serasi agar terjadi proses belajar yang efektif. Dengan demikian, apabila pedidik melaksanakan fungsi dan tugasnya dengan baik maka output yang dihasilkan akan baik. Sebaliknya, apabila pendidik tidak menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik maka output yang dihasilkan tidak akan berkualitas. 
 Hal senada juga dikemukakan oleh Yulianto (2006:1), pendidik merupakan salah satu faktor kunci yang ikut menentukan arah kualitas pendidikan. Peran pendidik tidak bisa dihilangkan begitu saja. Apalagi, pendidik bukan semata-mata hanya mengajar tetapi dia juga mendidik. Sebagai pengajar, pendidik tidak hanya berperan dalam menyampaikan ilmu tapi juga berkewajiban melakukan evaluasi, mengelola kelas, mengembangkan perangkat pembelajaran dll. 
     Selain itu, Samani (1996) mengemukakan empat prasyarat agar seorang pendidik dapat profesional. Masing-masing adalah 
1. Kemampuan pendidik mengolah/menyiasati kurikulum, 
2. Kemampuan pendidik mengaitkan materi kurikulum dengan Iingkungan, 
3. Kemampuan pendidik memotivasi siswa untuk belajar sendiri dan 
4. Kemampuan pendidik untuk mengintegrasikan berbagai bidang studi/mata pelajaran menjadi kesatuan konsep yang utuh.
    Selanjutnya menurut Djojonegoro (1996) pendidik yang bermutu paling tidak memiliki empat kriteria utama, yaitu:
 1. Kemampuan profesional, upaya profesional, waktu yang dicurahkan untuk kegiatan profesional dan kesesuaian antara keahlian dan pekerjaannya. Kemampuan profesional meliputi kemampuan intelegensi, sikap dan prestasi kerjanya. 
2. Upaya profesional, adalah upaya seorang pendidik untuk mentransformasikan kemampuan profesional yang dimilikinya ke dalam tindakan mendidik dan mengajar secara nyata. 
3. Mampu memanajemen waktu. Waktu, yang dicurahkan untuk kegiatan profesional menunjukkan intensitas waktu dari seorang pendidik yang dikonsentrasikan untuk tugas-tugas profesinya.
4. Dapat membelajarkan siswa secara tuntas, benar dan berhasil. Untuk itu pendidik harus menguasai keahliannya, baik dalam disiplin ilmu pengetahuan maupun metodologi mengajarnya. 
    
     




11 komentar:

  1. Pada saat ini Peserta didik juga harus me-miliki kemampuan untuk menyusun dan mengungkapkan, menganalisa sendiri suatu masalah dlm proses pembelajaran, lalu bagai mana kita sebagai pendidik menyamakan pengetahuan siswa tthmg suatu konsep? Krn setiap siswa tentu menyusun pemahaman versinya masing2

    BalasHapus
    Balasan
    1. baiklah trimakasih sonia atas pertanyaannya saya akan mencoba menjawab, bagaimana kita sebagai tenaga pendidik menyamakan pengetahuan siswa tentang suatu konsep karena tiap siswa berbeda-beda dalam menyusun pemahaman masing2, disini kita sebagai tenaga pendidik tentunya memiliki trik2 khusus misalnya saja seperti metode, model dan strategi yang bisa kita terapkan yang bisa sesuai dengan kondisi yg seperti itu misalnya saya dgn menggunakan model Group investigation yg dimana disini siswa membentuk suatu kelompok dalam memecahkan masalah suatu pembelajaran mereka mencari solusinya bersama2 dan dgn seperti itu mereka bisa memahami konsep secara bersama-sama dan akhirnya mereka akan paham tentang suatu konsep

      Hapus
  2. interaksi antara guru dan siswa yang baik akan memunculkan inovasi untuk kemajuan pendidikan, baik pendidikan untuk pendidik ataupun pendidikan untuk semua insan dan mahluk sosial.
    dengan didukung kemajuan teknologi ini semestinya pendidikan akan lebih baik lagi, saat pendidikan moral mendominasi proses pembelajaran.

    Salam
    Agung Laksono

    BalasHapus
  3. Pada ulasan Anda tentang prinsip pokok pembelajaran abad 21 dijelaskan bahwa pembelajaran berpusat pada siswa dimana siswa ditempatkan sebagai subjek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi siswa.
    Yang ingin saya tanyakan :
    Bagaimana menurut Anda cara/langkah yg dpt diambil untuk mengembangkan minat siswa sementara di Indonesia kita ketahui bahwa SD dan SMP tidak memiliki pembagian kelas menurut minat dan bakat seperti SMK kejuruan dan SMA
    Mohon masukan kawan kawan yang membaca artikel ini. Terima kasih
    Salam edukasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. baiklah saya akan mencoba untuk menjawab pertanyaan dari kak emaa, yg dimana pertanyaannya adalah cara/langkah yang diambil untuk mengembangkan minat dan bakat siswa smp dan sma sementara mereka tidak memiliki pembagian kelas menurut minat dan bakat seperti Di SMK,disini perlu kak ema ketahui untuk mengembangkan minat dan bakat di smp dan Sma biasanya cara memenuhi minat dan bakat mereka yaitu dengan mengikuti ekstra kulikuler dan itu bisa sama dengan mengembangkan minat dan bakat mereka disitu.

      Hapus
  4. Pada ulasan Anda tentang prinsip pokok pembelajaran abad 21 dijelaskan bahwa pembelajaran berpusat pada siswa dimana siswa ditempatkan sebagai subjek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi siswa.
    Yang ingin saya tanyakan :
    Bagaimana menurut Anda cara/langkah yg dpt diambil untuk mengembangkan minat siswa sementara di Indonesia kita ketahui bahwa SD dan SMP tidak memiliki pembagian kelas menurut minat dan bakat seperti SMK kejuruan dan SMA
    Mohon masukan kawan kawan yang membaca artikel ini. Terima kasih
    Salam edukasi

    BalasHapus
  5. Assalamualaikum wr.wb
    Terima kasih untuk artikelnya sangat menarik. Saya sedikit bertanya kepada saudara boeth tentang model pembelajaran yang layak pada abad 21 ini.sabagaimana d sPembelajaran PjBL (Project Based Learning dan Inquiry Based Learning ).apakah dengan mengunakan kedua model tersebut bisa mencapai ketuntasan pembelajarab di abad 21 ini..???

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikum salam wella, trimakasih atas pertanyaanya saya akan coba jawab kalau menurut saya bisa mencapai ketuntasan karena didalam pembelajaran PJBL dan Inquiry based learning terdapat beberapa hal yg dikedepankan yaitu meningkatkan motivasi siswa untuk belajar serta mendorong kemampuan mereka untuk menyelesaikan pekerjaan penting , membuat siswa lebih aktif, serta meningkatkan kolaborasi dan membuat suasana menyenangkan dan dgn hal seperti itu tentunya bisa mencapai ketuntasan pembelajaran abad 21

      Hapus
  6. Saya tertarik untuk sharing pada maslah mutu pendidikan, dimana dlterkait kemampuan progesional pendidik dan upaya progessional pendidik bedasar konsep pokok pendidikan abad 21?

    BalasHapus
  7. proses pembelajaran dari tahun ketahun terdapat perubahan sampai ke abad 21 ini, jika kita ambil perbandingan dari proses pembelajaran yang di lakukan pada zaman dahulu dengan zaman sekarang kira-kira apa kelabihan dan kekurangan proses pembelajaran dari abad dahulu dengan abad 21 ini, kemudian yang mana lebih berhasil ?

    BalasHapus

Efektivitas Model Pembelajaran Quantum dalam pembelajaran Sains

Efektivitas Model Pembelajaran Quantum  dalam Pembelajaran Sains     Pembelajaran Quantum merupakan istilah yang merupakan terjemah...