Rabu, 28 Februari 2018

Efektivitas Model Pembelajaran Quantum dalam pembelajaran Sains

Efektivitas Model Pembelajaran Quantum 
dalam Pembelajaran Sains


    Pembelajaran Quantum merupakan istilah yang merupakan terjemahan dari bahasa asing yaitu "Quantum Learning". menurut Deporter, dkk (2010). quantum learning adalah Kiat, Petunjuk, Strategi dan seluruh Proses belajar yang dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat,serta membuat belajar sebagai suatu proses yang menyenangkan dan bermanfaat. interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa. interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan bagi orang lain. 
     Quantum Learning berakar dari upaya Dr.Georgi Lazanov, Seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya sebagai "Suggestology" atau Suggestpedia". Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar dan setiap detail apapun memberikan Sugesti Positif atau negatif (Deporter dan Hernacki, 2016).
    Dengan demikian, pembelajaran kuantum dapat dikatakan sebagai model pembelajaran yang menekankan untuk memberikan manfaat yang bermakna dan juga menekankan pada tingkat kesenangan dari peserta didik atau siswa.
    Selanjutnya, Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:30) mengungkapkan mengenai karakterisitik dari pembelajaran kuantum (quantum learning) yaitu sebagai berikut.Pembelajaran kuantum berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisika kuantum meskipun serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai. 
1. Pembelajaran kuantum lebih bersifat konstruktivis(tis), bukan positivistis-empiris, behavioristis, dan atau maturasionistis.
2. Pembelajaran kuantum berupaya memadukan (mengintegrasikan), menyinergikan, dan mengkolaborasikan faktor potensi diri manusia selaku pembelajar dengan lingkungan (fisik dan mental) sebagai konteks pembelajaran.
3. Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekadar transaksi makna.
4. Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.
5.Pembelajaran kuantum sangat menekankan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat.
6. Pembelajaran kuantum sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran.
7. Pembelajaran kuantum memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran. Konteks 8. pembelajaran meliputi suasana yang memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang menggairahkan atau mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis.
9. Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan (dalam) hidup, dan prestasi fisikal atau material.
10. Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran.
Asas Utama Pembelajaran Quantum Learning
     Menurut De porter. B (2004). Asas utama Quantum Learning adalah " Bawalah dunia mereka kedunia kita antarkan dan antarkan dunia kita kedunia mereka". Dari asas utama ini, dapat disimpulkan bahwa langkah awal yang harus dilakukan dalam pengajaran yaitu mencoba memasuki dunia yang dialami peserta didik, cara yang dilakukan seorang pendidik meliputi :untuk apa mengajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, sosial, musik, seni, rekreasi atau akademis mereka. Setelah kaitan itu terbentuk, maka dapat membawa mereka kedalam dunia kita dan memberi mereka pemahaman mengenai isi dunia itu. “Dunia kita” dipeluas mencakup tidak hanya para siswa, tetapi juga guru. Akhirnya dengan pengertian yang lebih luas dan penguasaan lebih mendalam, siswa dapat membawa apa yang mereka pelajari kedalam dunia mereka dan menerapkannya pada situasi baru.
Prinsip-Prinsip Pembelajaran Quantum Learning
  Ada 5 prisip Quantum Learningg yaitu:
    a. Segalanya berbicara
         Artinya segalanya dari lingkungan kelas hingga bahasa tubuh guru, dari kertas yang dibagikan hingga rancangan pembelajaran, semuanya mengirimkan pesan belajar.
    b. Segalanya bertujuan
         Semuanya yang terjadi dalam proses belajar mengajar mempunyai tujuan.
    c. Pengalaman sebelum pemberian nama
        Berarti sebelum mendefinisikan, membedakan, siswa terlebih dahulu telah  memiliki atau telah diberikan pengalaman informasi yang terkait dengan upaya pemberian nama.
    d. Akui setiap usaha
      Berarti apapun usaha yang telah dilakukan siswa haruslah mendapat pengakuan dari guru maupun siswa lainnya.
    e. Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan
     Setiap usaha belajar yang dilakukan layak untuk dirayakan untuk memberi umpan balik dan meningkatkan asosiasi emosi positif dengan belajar.
   Keunggulan dan Kelemahan Model Pembelajaran Quantum
Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011:18-19) dalam bukunya yang berjudul ”Quantum Learning” juga menjelaskan mengenai keunggulan dan kelemahan dari pembelajaran kauntum (quantum learning) yaitu sebagai berikut.
Keunggulan
1. Pembelajaran kuantum berpangkal pada psikologi kognitif, bukan fisika kuantum meskipun serba sedikit istilah dan konsep kuantum dipakai.
2. Pembelajaran kuantum lebih bersifat humanistis, bukan positivistis-empiris, “hewan-istis”, dan atau nativistis.
3. Pembelajaran kuantum lebih konstruktivis(tis), bukan positivistis-empiris, behavioristis.
4. Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada interaksi yang bermutu dan bermakna, bukan sekedar transaksi makna.
5. Pembelajaran kuantum sangat menekankan pada pemercepatan pembelajaran dengan taraf keberhasilan tinggi.
6. Pembelajaran kuantum sangat menentukan kealamiahan dan kewajaran proses pembelajaran, bukan keartifisialan atau keadaan yang dibuat-buat.
7. Pembelajaran kuantum sangat menekankan kebermaknaan dan kebermutuan proses pembelajaran.
8. Pembelajaran kuantum memiliki model yang memadukan konteks dan isi pembelajaran.
9. Pembelajaran kuantum memusatkan perhatian pada pembentukan keterampilan akademis, keterampilan (dalam) hidup, dan prestasi fisikal atau material.
10.Pembelajaran kuantum menempatkan nilai dan keyakinan sebagai bagian penting proses pembelajaran.
Kelemahan 
1. Model ini memerlukan kesiapan dan perencanaan yang matang disamping memerlukan waktu yang cukup panjang, yang mungkin terpaksa mengambil waktu yang cukup panjang, yang mungkin terpaksa mengambil waktu atau jam pelajaran lain.
2. Fasilitas seperti peralatan, tempat dan biaya yag memadai tidak selalu bersedia dengan baik.
3. Karena dalam metode ini ada perayaan untuk menghormati usaha seseorang siswa baik berupa tepuk tangan, jentikan jari, nyanyian dll, maka dapat menggangu kelas lain.
4. banyak memakan waktu dalam hal persiapan.
5. Model ini memerlukan ketrampilan guru secara khusus karena tanpa ditunjang hal itu proses pembelajaran tidak akan efektif .
6. agar belajar dengan Model pembelajaran ini mendapatkan hal yang baik maka perlu ketelitian dan kesabaran itu diabaikan sehingga apa yang diharapkan tidak tercapai sebagaimana mestinya.

berdasarkan Uraian Diatas Penulis Ingin mengajukan beberapa pertanyaan diantaranya
 1. Mengapa didalam pembelajaran Quantum lebih menekankan Nilai dan Keyakinan didalam Proses Pembelajaran/Belajar Mengajar ?
2. Dr. Georgi Lazanov Mengatakan sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar dan setiap detail apapun memberikan Sugesti Positif atau negatif , yang ingin saya tanyakan mengapa demikian dan jelaskan ?
3.Seberapa efektifkan Model Pembelajaran Quantum didalam pembelajaran Sains jelaskan ?

Selasa, 20 Februari 2018

SISTEM PENILAIAN PROSESPEMBELAJARAN SAINS

SISTEM PENILAIAN PADA PROSES 
PEMBELAJARAN SAINS

PENGERTIAN PENILAIAN
  Penilaian merupakan suatu rangkaian kegiatan untuk memperoleh menganalisis dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan (Trianto, 2010). dan pengertian penilaian menurut peraturan MENDIKNAS Nomor 20 Tahun 2007, penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian Hasil belajar peserta didik.
  Penilaian Hasil belajar peserta didik dilaksanakan berdasarkan standar penilaian pendidikan yang berlaku secara rasional. standar penilaian pendidikan adalah Standar Nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanism, Prosedur dan Instrumen penilaian hasil belajar peseta didik, penilaian dapat berupa ulangan dan atau ujian. dalam dunia pendidikan, khususnya dunia persekolahan.

Aspek Penilaian 
Didalam Sistem Penilaian pada Proses pembelajaran Sains ada 3 Aspek Penilaian yaitu yang harus dipenuhi :
1. Penilaian Pengetahuan, Pemahaman dan Penerapan Konsep 
    Penilaian ini bertujuan untuk melihat penguasaan peserta didik terhadap fakta, konsep, Prinsip dan Hukum-hukum didalam SAINS dan Penerapannya dalam kehidupan. Peserta didik diharapkan dapat menggunakan usaha pemahamanya tersebut untuk membuat keputusan, berpartisipasi dimasyarakat dan menanggapi isu-isu Lokal dan global 
2. Penilaian Ketrampilan Proses 
   Penilaian Tidak hanya dilakukan terhadap produk, tetapi juga proses.Penilaian proses SAINS ini dilakukan terhadap ketrampilan Proses SAINS, Meliputi ketrampilan dasar IPA dan Kterampilan terpadu tingkat awal.
3. Penilaian Sikap
  Penilaian sikap Ilmiah meliputi sikap obyektif, terbuka, tidak menerima begitu saja sesuatu sebagai kebenaran, ingin tahu, ulet, tekun dan pantang menyerah. Selain itu, kemampuan bekerja sam, bertukar pendapat, mempertahankan pen-dapat, menerima saran, dan kemampuan sosial lainnya dapat dilakukan dalam pembelajaran sains.

Pelaksaanaan Penilaian Ketrampilan Proses Sains
   Di dalam melaksanakan Penilaian ketrampilan Proses Sains terdapat beberapa bentuk perlakuan yang dapat dilakukan,diantaranya :
1.     Pretes dan Postes
2.     Diagnostik
3.     Penempatan Kelas
4.     Pemilihan kompetensi siswa
5.     Bimbingan karir
    Penilaian keterampilan proses sains dilakukan dengan menggunakan instrumen yang disesuaikan dengan materi  dan tingkat perkembangan siswa atau tingkatan kelas (Rezba, 1999). Oleh karena itu, penyusunan instrumen penilaian harus direncanakan secara cermat sebelum digunakan. 
   Kegiatan penilaian hasil belajar sains dilakukan untuk menafsirkan hasil pengukuran dan menentukan pencapaian hasil belajar sains berdasarkan kriteria tertentu. Umumnya digunakan kategorisasi seperti baik-buruk, benar-salah, sangat setuju-sangat tidak setuju, dan sebagainya.
   Pendekatan dalam penilaian pembelajaran biasanya terdiri atas: Penilaian Acuan Norma (Norm-Referenced-PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (Criterion-Referenced-PAP). PAN adalah penilaian yang membandingkan hasil pengukuran yang diperoleh orang lain dalam kelompoknya. Sedangkan PAP adalah penilaian berdasarkan patokan atau kriteria tertentu yang sudah ditentukan terlebih dahulu. Adapun rangkuman ciri-ciri perbandingan kedua-duanya adalah sebagai berikut:

PAP
PAN
KEGUNAAN
Ketuntasan Belajar
Pengujian hasil belajar
PENEKANAN UTAMA
Menjelaskan kemampuan menyelesaikan Tugas
Mengukur perbedaan Individu
INTERPRETASI HASIL
Membandingkan kemampuan dengan kriteria penilaian
Membandingkan antara Prestasi peserta didik
KELUASAAN ISI
Terfokus pada Tugas Terbatas
Mencakup isi yang luas
PERENCANAAN TES
Rincian kemampuan yang di ukur
Kisi-kisi tes sangat dibutuhkan
PROSEDUR PEMILIHAN BUTIR
Mengikutkan semua butir yang diperlukan, tidak ada pergantian tingkat kesulitan Butir atau membuang butir yang mudah
Seleksi butir dengan daya beda tinggi memperoleh variasi skor yang besar (heterogen) butir mudah dihilangkan
STANDAR HASIL
Penggunaan standar mutlak  (menguasai 75 % istilah teknis)
Penggunaan standar Norma (rangking 5-40 siswa)
 
    
   Berdasarkan uraian di atas Penulis ingin mengajukan pertanyaan  untuk pembaca yaitu :
 1. Didalam Penilaian keterampilan proses sains dilakukan dengan menggunakan instrumen yang disesuaikan dengan materi  dan tingkat perkembangan siswa atau tingkatan kelas, yang ingin saya tanyakan bagaimana menyesuaikan instrumen yang bisa disesuaikan dengan materi dan tingkat perkembangan siswa ?

2. Seberapa penting sistem didalam penilaian pembelajaran Sains dan patokan seperti apa yang menjadi penilaian didalam Penilaian pembelajaran sains ?

Kamis, 15 Februari 2018

Model Pembelajaran Khusus Sains

MODEL PEMBELAJARAN KHUSUS SAINS

Pengertian Model Pembelajaran 

     Model pembelajaran diartikan sebagai prosedur Sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar, dan dapat juga diartikan suatu pendekatan yang diggunakan dalam kegiatan pembelajaran.
      Jadi sebenarnya Model Pembelajaran memiliki arti yang sama dengan pendekatan, Strategi atau Metode Pembelajaran. saat ini telah banyak dikembangkan berbagai macam Model Pembelajaran, dari yang sederhana sampai Model yang agak kompleks dan rumit karena memerlukan banyak alat bantu dalam penerapannya.

Ciri-ciri Model Pembelajaran 

 Secara Khusus ada beberapa ciri-ciri Model Pembelajaran diantaranya adalah :
1. Rasional teoritik yang logis yang disusun Oleh para para pencipta atau pengembangannya.
2. Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar
3. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil.
Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai 
     Berbicara Tentang Khusus, terdapat Model Pembelajaran yang Khusus pada Model Pembelajaran SAINS, diantaranya adalah PjBL dan Inquiry Learning, disini akan dijabarkan kedua Model Pembelajaran Khusus SAINS tersebut :
A. Model Pembelajaran PjBL (Project Based Learning)
                                     Image result for model pembelajaran pjbl

    Model Pembelajaran PjBL (Project Based Learning) merupakan model belajar yang meng-gunakan masalah sebagai langkah awal dalam menggumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas Secara nyata.pembelajaran berbasi Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan yang kompleks yang diperlukan peserta didik dalam melakukan investigasi dan memahaminya. 
      Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dikatakan sebagai operasional Konsep " Pendidikan Berbasis Produksi"yang dikembangkan di sekolah Menengah Kejuruan. Pada Pembelajaran Berbasis Proyek memiliki beberapa karakteristik yaitu :
1. Peserta Didik membuat Keputusan tentang sebuah kerangka kerja.
2. Adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan Kepada Peserta didik.
3. Peserta mendesains mendesains Proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau tantangan yang diajukan.
4. Peserta didik Secara Kolaboratif  bertanggung jawab untuk mengakses dan mengelola informasi untuk memecahkan Masalah
5. Proses Evaluasi di jalankan secara Kontinyu 
6.Peserta didik secara berkala melakukan refleksi
7. Produk akhir aktivitas belajar akan di evaluasi secara kualitatif
8. Situasi Pembelajaran sanagat tolerans terhadap kesalahan dan perubahan.

Kelebihan Pembelajaran Berbasis Proyek 

a. Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta didik untuk Belajar, mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting dan mereka perlu untuk dihargai.
b. Meningkatkan kemampuan Pemecahan Masalah.
c. Membuat Peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan Problem-problem yang Kompleks,
d. Meningkatkan Kolaborasi
e. mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktekan ketrampilan berkomunikasi.
f. Meningkatkan ketrampilan peserta didik didalam mengelola sumber.
g. Memberikan pengalaman belajar kepada Peserta didik.

Kelemahan Pembelajaran Berbasis Poyek

a. Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.
b. Membutuhkan Biaya Yang cukup banyak 
c. Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan Kelas Tradisional, dimana Instruktur memegang peran utama di kelas,
d. Banyaknya Peralatan yang harus disediakan.
e. Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam melakukan percobaan dan pengumpulan informasi akan kesulitan.
f. Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok.
g. Ketika topik yang diberikan Kepada Masing-masingKelompok berbeda-beda di khawatirkan  peserta didik tidak bisa memahami topik secara keseluruhan.

    Dalam Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek/ Project Based Learning ada beberapa peran Bagi Guru dan  Peserta Didik dalam Pelaksanaan pembelajaran berbasis Proyek, antara lain :
1. Peran Guru
    a. Merencanakan dan Mendesain Pembelajaran
    b. Membuat strategi pembelajaran
    c. Membayangkan interaksi yang terjadi antara Guru dan Siswa 
    d. Mencari keunikan Siswa 
    e. Menilai Siswa dengan cara transparan dan berbagai macam penilaian 
    f. Membuat Portofolio pekerjaan Siswa.

2. Peran Peserta Didik
    a. Menggunakan kemampuan bertanya dan berfikir.
    b. Melakukan Riset Sederhana
    c. Mempelajari ide dan konsep baru
    d. Belajar mengatur waktu dengan baik 
    e. Melakukan kegiatan belajar sendiri atau kelompok
    f. Mengaplikasikan hasil belajar lewat tindakan 
    g. Melakukan Interaksi sosial (awancara, survey, observasi dan lain- lain.

  
B. Model Pembelajaran Inquiry Based Learning 
                                  Image result for model pembelajaran inquiry
    Model Pembelajaran Inquiry Based Learning biasa disebut dengan Model Pembelajaran Pe-nemuan. Pembelajaran Inquiry membuat siswa  untuk bisa menyelidiki dan mencari suatu masalah dengan cara yang sistematis, Kritis dan logis dan dianalisis dengan baik 
    Model Pembelajaran ini akan membuat siswa Lebih banyak berdiskusi untuk memecahkan masalah, dan model pembelajaran ini cocok untuk pembelajaran IPA karena siswa dituntut untuk meneliti suatu hal dengan Teliti.
       Disini guru hanya menjadi Fasilitator yang membimbing siswa untuk menemukan suatu permasalahan yang diberikan, secara umum ada dua jenis pembelajaran Inquiry yaitu Model Pembelajaran Inquiry terbimbing dan pembelajaran Inquiry Bebas.

        Kelebihan Model Pembelajaran Inquiry 
    1. Terjadi peningkatan kemampuan ingatan dan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran.
   2. Meningkatkan keterampilan siswa dalam pemecahan masalah pada situasi-situasi baru yang   berbeda.
   3. Membantu Guru secara simultan dalam meningkatkan kemampuan siswa.
   4. Konsep dasar suatu materi pengetahuan pembelajaran akan dapat di ingat dan mengendap dengan baik dalam memori siswa.
  5.Model Pembelajaran ini memungkinkan siswa mempunyai waktu yang cukup untuk meng-asimilasi dan mengakomodasi setiap informasi Relevan yang mereka peroleh, sehingga pengetahuan yang mereka miliki akan semakin mantap, luas dan mendalam.

      Kekurangan Model Pembelajaran Inquiry 
    1. Permasalahan dengan waktu yang dialokasikan
   2. Pembelajaran Inquiry yang dilakukan oleh siswa dapat melenceng dari yujuan semula karena mereka belum terbiasa melakukannya.
   3.  Akan terjadi hambatan oleh siswa jika siswa tersebut telah terbiasa menerima informasi dari guru.
   4. Jika jumlah siswa didalam kelas terlalu banyak maka guru akan mengalami kesulitan dalam memfasilitasi Proses belajar Seluruh siswa.

Berdasarkan Ulasan atau Blog diatas Pertanyaan yang ingin saya ajukan adalah 
1). Baiklah pertanyaan yang pertama Model PjBL adalah Model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam menggumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan berdasarkan pengalaman nyata, yang ingin saya tanyakan bagaimana menentukan pokok permasalahan didalam sebuah proses pembelajaran berdasarkan kehidupan nyata karena pengalaman tiap siswa berbeda-beda ?
2). Bagaimana mengatasi kelemahan yang terjadi pada Model Pembelajaran PjBL dan Model Pembelajaran Inquiry ?
3). Menurut anda Seberapa penting Model-Model Pembelajaran Khusus SAINS didalam Proses Pembelajaran IPA/SAINS ! Jelaskan menurut intuisi dan pandangan anda !



Kamis, 08 Februari 2018

Model Pembelajaran Sains Abad 21

A. Model Pembelajaran Sains abad Ke-21

    Model Pembelajaran Abad Ke-21 ini memang berbeda dengan abad-abad sebelumnya, pada abad 21 ini teknologi berkembang hubungan antar bangsa semakin Kuat, terjadi perubahan cara hidup serta interaksi warga Negara semakin dekat dengan warga Negara lain.Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern tersebut, masyarakat suatu negara dituntut mampu bersaing dan melakukan penyesuaian untuk menjadi sumber daya manusia yang berkualitas. Jika sumber daya manusia suatu negara berkualitas maka dapat dikatakan negara tersebut maju. Maju mundurnya suatu negara tersebut erat kaitannya dengan aspek pendidikan. Jadi untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, diperlukan pendidikan yang berkualitas pula.
   Pada Kurikulum 2013 diharapkan dapat diimplementasikan pembelajaran abad 21, hal ini untuk menyikapi tuntutan zaman yang semakin kompetitif adapun pembelajaran abad 21 mencerminkan empat hal 
1. Critical Thingking and Problem Solving
2. Creativity and Inovation
3. Comunication 
4. Collaboration 
    Berikut beberapa penjelasan mengenai empat hal yang telah diutaran diatas :
1. Critical Thinking and Problem Solving
    Pada karakter ini, peserta didik berusaha untuk memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan yang rumit, memahami interkoneksi antar sistem.peserta didik juga menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan mandiri, peserta didik juga me-miliki kemampuan untuk menyusun dan mengungkapkan, menganalisa dan menyelesaikan masalah.
2. Creativity and Inovation 
    Pada Karakter ini, peserta didik memiliki kemampuan untuk menggembangkan melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda.
3. Comunication 
    Pada Karakter ini peserta didik di tuntut untuk memahami, mengolah dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan dan multimedia, peserta didik diberikan kesempatan mengunakan kemampuannya untuk memahami, mengelola dan menciptakan komunikasi yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara Lisan, Tulisan dan Multimedia.
4. Collaboration 
    Pada Karakter ini, peserta didik menunjukan kemampuannya dalam kerjasama berkelompok dan kepemimpinan beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggung jawab, bekerja secara produktif dengan yang lain, menempatkan empati pada tempatnya, menghormati perspektif yang berbeda. peserta didik juga menjalankan tanggung jawab pribadi dan fleksibilitas secara pribadi, pada tempat kerja dan hubungan mayarakat menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk diri sendiri dan orang lain, memaklumi kerancuan. 


B. Konsep Belajar dan Pembelajaran Abad 21 

   untuk mengembangkan pembelajaran abad 21, guru Harus memulai satu langkah perubahan yaitu merubah pola pembelajaran tradisional yang berpusat pada gurumenjadi pola pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pola Pembelajaran yang Tradisional Bisa dipahami sebagai Pola pembelajaran dimana guru banyak memberikan ceramah sedangkan siswa lebih banyak mendengar, mencatat dan menghafal.
     Untuk mampu mengembangkan pembelajaran abad 21 ini ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan yaitu antara lain :
1. Tugas Utama Guru Sebagai Perencana Pembelajaran sebagai Fasilitator dan pengelola kelas maka tugas guru yang penting adalah dalam Pembuatan RPP. RPP haruslah baik dan detail dan mampu menjelaskan semua proses yang akan terjadi dalam kelas termasuk proses penilaian dan target yang ingin dicapai. dalam menyusun RPP, guru harus mampu mengkombinasikan antara target yang diminta dalam Kurikulum Nasional, pengembangan kecakapan abad 21 atau karakter nasional serta pemanfaatan teknologi dalam kelas.
2. Masukan Unsur Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking) teknologi dalam hal ini khususnya internet akan sangat memudahkan siswa untuk memperoleh informasi dan jawaban dari persoalan yang disampaikan oleh guru untuk permasalahan yang bersifat pengetahuan dan pemahaman bisa dicari solusinya dengan sangat mudah dan ada kecendrungan bahwa siswa hanya jadi pengumpul informasi.
3. Penerapan pola pendekatan dan model pembelajaran yang bervariasi Beberapa pendekatan pembelajaran seperti pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning), pembelajaran berbasis keingintahuan (Inquiry Based Learning) serta model pembelajaran silang (jigsaw) maupun model kelas terbalik (Flipped Classroom) dapat diterapkan oleh guru untuk memperkaya pengalaman belajar siswa (Learning Experience). 
4.  Integrasi Teknologi Sekolah dimana siswa dan guru mempunyai akses teknologi yang baik harus mampu memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran, siswa harus terbiasa bekerja dengan teknologi seperti layaknya orang yang bekerja. Seringkali guru mengeluhkan mengenai fasilitas teknologi yang belum mereka miliki, satu hal saja bahwa pengembangan pembelajaran abad 21 bisa dilakukan tanpa unsur teknologi, yang terpenting adalah guru yang baik yang bisa mengembangkan proses pembelajaran yang aktif dan kolaboratif, namun tentu saja guru harus berusaha untuk menguasai teknologinya terlebih dahulu. Hal yang paling mendasar yang harus diingat bahwasannya teknologi tidak akan menjadi alat bantu yang baik dan kuat apabila pola pembelajarannya masih tradisional.

C. Prinsip Pokok Pembelajaran Abad 21

   Dalam buku paradigma pendidikan nasional abad XXI yang diterbitkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) atau membaca isi Pemendikbud No. 65 tahun 2013 tentang Standar Proses, BSNP merumuskan 16 prinsip pembelajaran yang harus dipenuhi dalam proses pendidikan abad ke-21. Sedangkan Pemendikbud No. 65 tahun 2013 mengemukakan 14 prinsip pembelajaran, terkait dengan implementasi Kurikulum 2013.
  Sementara itu, Jennifer Nichols menyederhanakannya ke dalam 4 prinsip pokok pembelajaran abad ke 21yang dijelaskan dan dikembangkan seperti berikut ini: 
1. Instruction should be student-centered Pengembangan pembelajaran seyogyanya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat. 
2. Education should be collaborative Siswa harus dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka. 
3. Learning should have context Pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata. 
4. Schools should be integrated with society Dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat, seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya. 

D. Model Pembelajaran Dan Peran Pendidik Abad 21

a. Model Pembelajaran Ada beberapa model pembelajaran yang layak untuk diaplikasikan dalam pembelajaran abad 21. Namun yang paling populer dan banyak di implementasikan adalan model Pembelajaran PjBL (Project Based Learning dan Inquiry Based Learning )

  1. PjBL atau Pembelajaran Berbasis Proyek 
         merupakan model belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata. Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. Melalui PjBL, proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum. Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. PjBLmerupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik. Mengingat bahwa masing-masing peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda, maka Pembelajaran Berbasis Proyek memberikan kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan investigasi  mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik.
  Pembelajaran Berbasis Proyek dapat dikatakan sebagai operasionalisasi konsep “Pendidikan Berbasis Produksi” yang dikembangkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). SMK sebagai institusi yang berfungsi untuk menyiapkan lulusan untuk bekerja di dunia usaha dan industri harus dapat membekali peserta didiknya dengan “kompetensi terstandar” yang dibutuhkan untuk bekerja pada bidang masing-masing. Dengan pembelajaran “berbasis produksi” peserta didik di SMK diperkenalkan dengan suasana dan makna kerja yang sesungguhnya di dunia kerja.. 

2) Inquiry Based Learning 
   Kata “Inquiry” berasal dari Bahasa Inggris yang berarti mengadakan penyelidikan, menanyakan keterangan, melakukan pemeriksaan (Echols dan Hassan Shadily, 2003: 323). Sedangkan menurut Gulo (2005:84) inkuiri berarti pertanyaan atau pemeriksaan, penyelidikan. Di dalam inquiry terdapat keterlibatkan siswa untuk menuju ke pemahaman. Lebih jauh disebutkan bahwa keterlibatan dalam proses belajar akan berdampak pada perolehan keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk pemecahan masalah, yakni menemukan jawaban dari pertanyaan yang selanjutnya digunakan untuk membangun pengetahuan baru bagi siswa. 
     Inquiry didefiniskan sebagai usaha menemukan kebenaran, informasi, atau pengetahuan dengan bertanya. Seseorang melakukan proses inquiry dimulai ketika lahir sampai dengan ketika meninggal dunia. Proses inquiry dimulai dengan mengumpulkan informasi dan data melalui pancaindera yakni penglihatan, pendengaran, sentuhan, pencecapan, dan penciuman. 
   Pendekatan IBL adalah suatu pendekatan yang digunakan dan mengacu pada suatu cara untuk mempertanyakan, mencari pengetahuan (informasi), atau mempelajari suatu gejala. Pembelajaran dengan pendekatan IBL selalu mengusahakan agar siswa selalu aktif secara mental maupun fisik. Materi yang disajikan guru bukan begitu saja diberitahukan dan diterima oleh siswa, tetapi siswa diusahakan sedemikian rupa sehingga mereka memperoleh berbagai pengalaman dalam rangka “menemukan sendiri” konsep-konsep yang direncanakan oleh guru. Inquiry based learning adalah sebuah teknik mengajar di mana guru melibatkan siswa di dalam proses belajar melalui penggunaan cara-cara bertanya, aktivitas problem solving, dan berpikir kritis. Hal ini akan memerlukan banyak waktu dalam persiapannya. Inquiry based learning biasanya berupa kerja kolaboratif. Kelas dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok diberi sebuah pertanyaan atau permasalahan yang akan mengarahkan semua anggota kelompok bekerja bersama mengembangkan proyek berdasarkan pertanyaan tersebut untuk menemukan jawabannya. Karena inquiry-based learning berbasis pertanyaan, maka guru harus menyiapkan pertanyaan yang bersifat terbuka sehingga siswa dapat mengembangkan pikirannya. Siswa harus diberi kesempatan untuk mencoba menemukan sendiri konsep yang diajarkan. Lebih dari itu, jika siswa juga diberi kesempatan untuk mengukur kemajuan belajarnya sendiri, maka hal ini akan membantu mereka belajar. 

  b.Peran Pendidik Pendidik berperan sangat penting, karena sebaik apa pun kurikulum dan sistem pendidikan yang ada, tanpa didukung mutu pendidik yang memenuhi syarat maka semuanya akan sia-sia. Sebaliknya, dengan pendidik yang bermutu maka kurikulum dan sistem yang tidak baik akan tertopang. Keberadaan pendidik bahkan tak tergantikan oleh siapapun atau apapun sekalipun dengan teknologi canggih. Alat dan media pendidikan, sarana prasarana, multimedia dan teknologi hanyalah media atau alat yang hanya digunakan sebagai rekan dalam proses pembelajaran
   Oleh karena itu, pendidik dan tenaga kependidikan perlu memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan, kompetensi yang terstandar serta mampu mendukung dan menyelenggarakan pendidikan secara profesional. Khususnya guru sangat menetukan kualitas output dan outcome yang dihasilkan oleh sekolah karena dialah yang merencanakan pembelajaran, menjalankan rencana pembelajaran yang telah dibuat sekaligus menilai pembelajaran yang telah dilakukan (Baker&Popham, 2005:28). 
    Selain itu, menurut Nasution (2005:77) bahwa pendidik merupakan orang yang paling bertanggung jawab untuk menyediakan lingkungan yang paling serasi agar terjadi proses belajar yang efektif. Dengan demikian, apabila pedidik melaksanakan fungsi dan tugasnya dengan baik maka output yang dihasilkan akan baik. Sebaliknya, apabila pendidik tidak menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik maka output yang dihasilkan tidak akan berkualitas. 
 Hal senada juga dikemukakan oleh Yulianto (2006:1), pendidik merupakan salah satu faktor kunci yang ikut menentukan arah kualitas pendidikan. Peran pendidik tidak bisa dihilangkan begitu saja. Apalagi, pendidik bukan semata-mata hanya mengajar tetapi dia juga mendidik. Sebagai pengajar, pendidik tidak hanya berperan dalam menyampaikan ilmu tapi juga berkewajiban melakukan evaluasi, mengelola kelas, mengembangkan perangkat pembelajaran dll. 
     Selain itu, Samani (1996) mengemukakan empat prasyarat agar seorang pendidik dapat profesional. Masing-masing adalah 
1. Kemampuan pendidik mengolah/menyiasati kurikulum, 
2. Kemampuan pendidik mengaitkan materi kurikulum dengan Iingkungan, 
3. Kemampuan pendidik memotivasi siswa untuk belajar sendiri dan 
4. Kemampuan pendidik untuk mengintegrasikan berbagai bidang studi/mata pelajaran menjadi kesatuan konsep yang utuh.
    Selanjutnya menurut Djojonegoro (1996) pendidik yang bermutu paling tidak memiliki empat kriteria utama, yaitu:
 1. Kemampuan profesional, upaya profesional, waktu yang dicurahkan untuk kegiatan profesional dan kesesuaian antara keahlian dan pekerjaannya. Kemampuan profesional meliputi kemampuan intelegensi, sikap dan prestasi kerjanya. 
2. Upaya profesional, adalah upaya seorang pendidik untuk mentransformasikan kemampuan profesional yang dimilikinya ke dalam tindakan mendidik dan mengajar secara nyata. 
3. Mampu memanajemen waktu. Waktu, yang dicurahkan untuk kegiatan profesional menunjukkan intensitas waktu dari seorang pendidik yang dikonsentrasikan untuk tugas-tugas profesinya.
4. Dapat membelajarkan siswa secara tuntas, benar dan berhasil. Untuk itu pendidik harus menguasai keahliannya, baik dalam disiplin ilmu pengetahuan maupun metodologi mengajarnya. 
    
     




Efektivitas Model Pembelajaran Quantum dalam pembelajaran Sains

Efektivitas Model Pembelajaran Quantum  dalam Pembelajaran Sains     Pembelajaran Quantum merupakan istilah yang merupakan terjemah...